Peranan Mamah Muda Sebagai Duta Bebas Stunting

banner 300250

Pangkalpinang, Realistisnews.com — Masalah stunting yang terjadi di Indonesia menurut beberapa sumber yang ada dinilai sangat genting. Bahkan, tingkat stunting sebagai dampak kurang gizi pada balita di Indonesia melampaui batas yang ditetapkan WHO. Untuk itu, masalah stunting sendiri menjadi ancaman serius yang sangat memerlukan penanganan yang tepat.

Sebagai negara yang digadang-gadang akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia, Indonesia tentunya harus bisa menangani berbagai permasalahan yang menghambat hal tersebut. Balita saat ini yang kedepan akan siap menjadi tenaga produktif di Indonesia, tentunya harus disiap sedemikian rupa untuk terhindar dari permasalahan stunting.

Mengutip dari penyampaian Presiden Joko Widodo, jika negara Indonesia mau bersaing di dunia Internasional, permasalah stunting nasional harus diturunkan.

“ Kalau anaknya stunting, kurang gizi bagimana mau bersaing di tingkat internasional. Saya ingin di 2024 angka stunting nasional harus turun jadi 14 persen, “kata Jokowi di Medan, Kamis.

Sementara itu juga, menurut Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Kementerian PPN/Bappenas Pungkas Bahjuri Ali mengungkapkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting yang ditandatangani Presiden Joko Widodo dapat menjadi acuan dalam memperkuat penenrapan strategi nasional percepatan penurunan stunting.

“Perpres ini juga memperkuat penerapan Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting 2018-2024 yang bertujuan untuk menurunkan prevalensi stunting, meningkatkan kualitas penyiapan kehidupan berkeluarga, menjamin pemenuhan asupan gizi, memperbaiki pola asuh, meningkatkan akses dan mutu kesehatan serta meningkatkan  akses air minum dan sanitasi “ ujar Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Kementerian PPN/Bappenas Pungkas Bahjuri Ali.

Dari keterangan diatas, dapat disimpulkan juga bahwa yang memiliki peranan besar dalam permasalah stunting ini adalah salah satunya para mamah muda. Para mamah muda inilah harus siap dan dicetak menjadi Duta Bebas Stunting.

Dari penjelasan awal, berikut diterangkan apa itu stunting dan bagaimana cara pencegahannya dari berbagai sumber yang didapatkan.

APA ITU STUNTING ?
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)(PPN, 2018). Kondisi gagal tumbuh pada anak balita disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu lama serta terjadinya infeksi berulang, dan kedua faktor penyebab ini dipengaruhi oleh pola asuh yang tidak memadai terutama dalam 1.000 HPK (Kementerian, 2018). Anak tergolong stunting apabila panjang atau tinggi badan menurut umurnya lebih rendah dari standar nasional yang berlaku (PPN, 2018).
Isu stunting juga menjadi salah satu target pembangunan di bidang kesehatan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, dengan target pada tahun 2024 prevalensi stunting di Indonesia turun menjadi 14% (Kemendagri, 2018).
Prevalensi stunting selama 14 tahun terakhir menunjukkan tidak adanya perubahan yang signifikan dan ini menunjukkan bahwa masalah stunting perlu ditangani segera. Prevalensi stunting di Indonesia berdasarkan data Riskesdas sejak tahun 2007 (36,8%), tahun 2010 (34,6%); tahun 2013 (37,2%) dan tahun 2018 (30,8%) atau sekitar 7 juta balita menderita stunting. Angka stunting di Indonesia tahun 2019 (27,67%). Kemudian sesuai dengan hasil Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) Tahun 2021 angka stunting di Indonesia sudah menurun menjadi 24,40%, walaupun mengalami penurunan akan tetapi angka stunting di Indonesia masih cukup tinggi (PPN, 2018).

Pola asuh orang tua (mamah) merupakan salah satu masalah yang dapat memepengaruhi terjadinya stunting pada balita.Pola asuh orang tua yang kurang atau rendah memilik peluang lebih besar anak terkena stunting dibandingkan orang tua dengan pola asuh baik (Amriko, dkk, 2013).

Mengutip dari situs Kementrian Perencanaan dan Pembangunan Nasional, Ada beberapa hal yang bisa ibu lakukan untuk mencegah kejadian stunting pada anak, baik saat hamil maupun sesudah melahirkan.

BAGAIMANA MENCEGAH STUNTING SAAT HAMIL ?
Mencegah anemia dapat dilakukan dengan cara mengkonsumsi  protein hewani setiap hari seperti ati, telur, ikan, unggas, dan daging merah serta minum tablet tambah darah minimal 90 tablet selama 3 bulan pertama kehamilan.

Mencegah kekurangan energi kronik (kek)  dapat dilakukan dengan cara Mengkonsumsi makanan sesuai gizi seimbang, Melakukan deteksi dini dengan melakukan pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA). Minimal LILA bagi ibu yang sehat adalah 23,5 cm.

Persiapan Sebelum  Hamil dapat dilakukan dengan melakukan Pemeriksaan Kesehatan Bagi Pasangan Usia Subur (PUS), Asupan Gizi yang baik bagi PUS
Masa kehamilan dapat dicegah dengan melakukan Pemeriksaan kehamilan, Makan makanan bergizi , Pemberian tablet tambah darah, asam polat  dan Imunisasi Tetanus Toxoid (TT).

Persiapkan persalinan dapat dilakukankan dengan cara Tanyakan kepada bidan dan dokter tanggal perkiraan persalinan, Pastikan suami atau keluarga mendampingi ibu saat periksa kehamilan. Siapkan lebih dari 1 orang yang memiliki golongan darah yang sama dan bersedia menjadi pendonor jika diperlukan, Persiapkan tabungan atau dana cadangan untuk biaya persalinan atau biaya lainnya, Rencanakan melahirkan ditolong oleh dokter atau bidan di fasilitas Kesehatan, Siapkan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk persiapan kelahiran bayi seperti KTP, Kartu Keluarga, dan Kartu Jaminan Kesehatan Nasional, Rencanakan ikut Keluarga Berencana (KB) setelah bersalin dan tanyakan ke petugas kesehatan tentang cara ber-KB.

BAGAIMANA PENCEGAHAN  STUNTING SESUDAH MELAHIRKAN ?
Memberikan Asi Eksklusif & Lanjutan dengan melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) segera setelah persalinan dan skin-to-skin contact  minimal 1 jam, Berikan ASI eksklusif kepada bayi dari usia 0 – 6 bulan dan teruskan hingga usia 2 tahun jika memungkinkan, Berikan Makanan Pendamping ASI (MPASI) dari usia 6 – 23 bulan

MPASI dan Pemberian Makanan Bayi dan Anak dengan melakukan Banyak makan sayuran (250 gr/hari setara dengan 2,5 porsi sayur) dan buah-buahan (150 gr/hari setara dengan 3 buah pisang ambon ukuran sedang, 1,5 potong pepaya ukuran sedang, atau 3 buah jeruk ukuran sedang), Biasakan mengkonsumsi aneka ragam makanan pokok, Batasi konsumsi pangan manis, asin, dan berlemak, Biasakan sarapan, Biasakan minum air putih yang cukup dan aman, Biasakan membaca label pada kemasan pangan, Kecukupan nilai kalori dan kandungan gizi makanan sesuai kebutuhan berdasarkan umur, bervariasi sesuai dgn ketersediaan lokal dan musim, dan disertai minum air bersih yang aman secukupnya.

Pemantauan Pertumbuhan dengan Identifikasi ukuran berat dan tinggi awal anak dari sejak lahir hingga usia 2 tahun untuk mengetahui kemajuan pertumbuhannya, Bayi dikategorikan memiliki Berat Lahir Rendah (BBLR) apabila berat badannya kurang dari 2.500 gram (Kementerian Kesehatan), Perkembangan berat dan tinggi badan anak dapat dilakukan setiap bulan di posyandu atau fasilitas kesehatan lainnya dan hasilnya bisa dicatat di Kartu Menuju Sehat (KMS) yang tersedia di dalam buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).

Dari beberapa hasil penelitian didapatkan bahwa :
Gangguan pertumbuhan pada balita sudah mulai muncul pada usia dini, Salah satu faktor tidak langsung yang berpengaruh dengan kejadian stunting adalah pola asuh. Kejadian stunting pada balita yang ditunjukkan pada praktek pemberian makan yang kurang baik yang diberikan pada anak akan memberikan peluang untuk terjadinya stunting.
Praktek pemberian makan pada anak sangat penting dan besar pengaruhnya bagi pertumbuhan anak. Memberikan suasana yang nyaman bagi anak pada saat makan, mengetahui selera makan yang baik pada anak, sabar dan penuh perhatian pada saat memberikan makan tentu dapat menjalin keakraban di antara keduanya sehingga diharapkan anak mampu menghabiskan makanan yang diberikan. Praktek pemberian makan berhubungan dengan kejadian stunting.

Hubungan yang bermakna antara pola asuh dengan status gizi anak usia 6 – 24 bulan dimana pola asuh makan yang baik berdampak pada status gizi anak normal.
Praktek kebersihan diri dengan balita stunting artinya praktek kebersihan diri yang kurang baik oleh ibu memberikan risiko kejadian stunting pada balita, adanya kelangkaan air bersih dan sanitasi berdampak pada tingginya angka kematian bayi dan balita .

Ada empat jenis pola asuh yaitu pola asuh otoriter, pola asuh demokratis, pola asuh permisif, dan pola asuh lalai pola asuh yang baik diterapkan oleh orang tua kepada anaknya adalah pola asuh demokratis yang ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dengan anaknya. Ibu yang memiliki anak tidak stunting memiliki pola asuh demokratis. Hal ini disebabkan karena peran orang tua dalam menjalankan pola asuh yang baik dan demokratis sehingga lebih dominan untuk menjadikan status gizi balita menjadi lebih baik dibandingkan pola asuh orang tua yang kurang baik, pola asuh yang tidak baik bisa saja menghasilkan status gizi balita yang tidak stunting, karena stunting bukan hanya disebabkan oleh faktor luar namun bisa disebabkan oleh faktor dari dalam seperti faktor genetic orang tua yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi status gizi balita.

Kesehatan ibu muda dalam pencegahan stunting pada anak telah meningkat setelah berpartisipasi dalam kegiatan parenting education. Kegiatan parenting educaton dapat meningkatkan literasi kesehatan ibu muda dalam upaya pencegahan stunting. Kenaikan pengetahuan ibu muda tentang pencegahan stunting setelah mengikuti program parenting, melalui program parenting education, pengasuh dan orangtua akan bertambah pengetahuan, sumber ilmu, dan dukungan dalam kemampuan menyediakan lingkungan positif sehingga anak akan optimal pertumbuhan fisik dan perkembangan bahasa serta emosinya. program parenting dapat meningkatkan dukungan psikososial orangtua demi kesejahteraan anak.

Adapun dimensi kesejahteraan anak mencakup keseluruhan diantaranya: kesehatan fisik, perkembangan, keamanan, perkembangan emosidan sosial, serta perkembangan kognitif, pengetahuan ibu muda meningkat, maka ibu akan lebih mudah dalam melaksanakan tanggungjawabnya.

—— CEGAH STUNTING, ITU PENTING ——

REFERENSI
Fitroh, S. F. & Oktavianingsih, E. 2020. Peran Parenting Dalam Meningkatkan Literasi Kesehatan Ibu Terhadap Stunting Di Bangkalan Madura. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 4, 610-619.

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional /Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian) Https://Www.Cegahstunting.Com/Ibu-Muda

Kemendagri 2018. Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting 2018-2024. Jakata: Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (Tnp2k).

PPN, K. 2018. Bappenas.(2018). Pedoman Pelaksanaan Intervensi Penurunan Stunting Terintegrasi Di Kabupaten/Kota. Rencana Aksi Nasional Dalam Rangka Penurunan Stunting: Rembuk Stunting. Https://Www. Bappenas. Go. Id.

Salsabila, A., Fitriyan, D. A., Rahmiati, H., Sekar, M., Dewi, M. S., Uttami, N. S., Gonzales, R., Dewi, R. Q., Aryatri, R. V. P. & Azzahra, V. 2021. Upaya Penurunan Stunting Melalui Peningkatan Pola Asuh Ibu. Jurnal Pengabdian Kesehatan Masyarakat (Pengmaskesmas), 1.

Yudianti, Y. & Saeni, R. H. 2017. Pola Asuh Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Di Kabupaten Polewali Mandar. Jurnal Kesehatan Manarang, 2, 21-25.

Oleh : Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UNSRI
Penulis:
Erwan Alfano
Eka Setiawati
Denni Affandi
Editor: Kartika Chandra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *