Pangkalpinang, Realistisnews.com – Alunan musik tradisional yang berpadu harmonis dengan riuh tepuk tangan ribuan pengunjung menandai dibukanya secara resmi Festival Pasir Padi 7 di Pantai Pasir Padi, Pangkalpinang, Jumat (19/6/2026). Gelaran tahunan yang menjadi ikon pariwisata Kota Pangkalpinang ini kembali sukses menyulap hamparan pasir putih menjadi panggung akbar kebudayaan dan pesta rakyat yang megah serta penuh warna.
Antusiasme masyarakat telah terlihat sejak pagi hari. Akses jalan utama menuju kawasan pantai legendaris ini dipadati oleh kendaraan roda dua maupun roda empat. Warga lokal hingga wisatawan tampak berbondong-bondong memadati area festival demi menyaksikan rangkaian acara tahun ini yang mengusung tema kelestarian budaya pesisir dan kebangkitan ekonomi kreatif.
Kemeriahan pembukaan semakin memuncak melalui kolaborasi ragam seni pertunjukan multidimensi. Mulai dari ketangkasan Pencak Silat Bayu Sejati, estetika Tari kreasi dari SMA Negeri 4 Pangkalpinang, magisnya Kuda Lumping, reog, kelincahan Barongsai, hingga Tarian Nunduh Bacang, teater rakyat, serta Tarian Air Bangka tampil bergantian memukau ribuan pasang mata yang hadir.
Wali Kota Pangkalpinang, Prof. Saparudin, dalam sambutan resminya menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh pihak, khususnya jajaran Dinas Pariwisata Kota Pangkalpinang, yang telah bekerja keras menyelenggarakan serta mendukung penuh perhelatan ini. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh elemen masyarakat yang antusias meramaikan pesta rakyat tersebut.
“Hari ini bertepatan dengan perayaan Peh Cun. Di Pantai Pasir Padi ini, kita memiliki tradisi unik berupa fenomena menegakkan telur. Tepat sekitar pukul 12.00 siang nanti, gaya gravitasi bumi berada pada titik terkuatnya di wilayah ini secara saintifik, sehingga telur-telur dapat berdiri tegak. Sebuah keajaiban alam dan tradisi yang sulit kita lakukan di hari-hari biasa,” ujar Prof. Saparudin.
Lebih lanjut, Prof. Saparudin menegaskan bahwa Festival Pasir Padi 2026 mengedepankan esensi toleransi dan keberagaman budaya Indonesia. Momentum festival ini dinilai sangat tepat karena bertepatan dengan bulan Juni yang dikenal sebagai Bulan Bung Karno sekaligus Bulan Pancasila. Representasi kebhinekaan tersebut diwujudkan nyata melalui perpaduan kebudayaan Melayu, Tionghoa, dan Jawa dalam satu panggung sinergi.
“Kota Pangkalpinang merupakan salah satu barometer kota toleransi terbaik di Indonesia, bersanding dengan beberapa kota lain di Kalimantan. Tingkat toleransi beragama dan berbudaya di sini sangat tinggi. Melalui festival ini, kita rajut kembali semangat gotong royong dan kebersamaan dalam bingkai kebhinekaan,” tambahnya.
Selain tradisi menegakkan telur, festival yang berlangsung selama tiga hari (Jumat hingga Minggu) ini juga akan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan menarik lainnya, seperti color run, lomba layang-layang hias, dan bazar produk lokal.
Pemerintah Kota Pangkalpinang berkomitmen untuk terus melakukan penataan dan revitalisasi infrastruktur di kawasan Pantai Pasir Padi agar destinasi wisata unggulan daerah tersebut semakin rapi, nyaman, dan memiliki daya tarik yang kuat bagi wisatawan luar daerah maupun mancanegara.
Menutup sambutannya, Wali Kota berharap agenda pariwisata ini mampu memberikan stimulus positif yang signifikan terhadap sektor ekonomi kreatif serta memberikan dampak ekonomi langsung bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Pangkalpinang. (RZ)














