Nama Chandra Jadi Sorotan Usai Kasus Kekerasan dan Pengancaman Wartawan di Air Anyir

banner 300250

Pangkalpinang , Realistisnews.com — Kasus dugaan kekerasan terhadap wartawan di kawasan tambang timah milik PT Putra Prima Mineral Mandiri di Desa Air Anyir, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, terus menjadi sorotan publik.

Peristiwa yang terjadi Sabtu (08/03/2026) itu memunculkan dugaan adanya intimidasi terhadap kerja jurnalistik setelah sejumlah wartawan mengaku mengalami pemukulan, perampasan telepon seluler, hingga penghapusan bukti liputan.

Salah satu korban, Dedi Wahyudi, mengatakan dirinya bersama beberapa rekan datang ke lokasi setelah menerima informasi adanya keributan antara masyarakat dan sopir truk yang diduga berkaitan dengan aktivitas tambang tersebut.

Informasi diterima sekitar pukul 10.00 WIB dan para wartawan tiba di lokasi sekitar pukul 14.00 WIB untuk melakukan peliputan.

Setibanya di lokasi, mereka mendatangi pos keamanan perusahaan dan memperkenalkan diri sebagai wartawan dengan menunjukkan kartu identitas pers.

“Kami permisi dengan satpam dan menunjukkan kartu pers,” ujar Dedi.

Situasi mulai memanas saat Dedi mengambil gambar di sekitar gerbang perusahaan. Seorang pria yang disebut bernama Maulid kemudian menegurnya dan mempertanyakan aktivitas pengambilan foto.

Dalam situasi tersebut, ponsel milik Dedi diduga dirampas dan dirinya mengalami kekerasan.

“HP saya dirampas, lalu saya dipukul sampai tiga kali,” ungkapnya.

Insiden juga menimpa wartawan lain, Frendy Primadana yang akrab disapa Dana. Saat mencoba meninggalkan lokasi, ia diduga ditarik oleh petugas keamanan hingga terjatuh dari sepeda motor.

Menurut Dedi, rekannya bahkan sempat dikejar, ditendang dari belakang, dan dipukul beberapa kali di bagian wajah.

Setelah kejadian tersebut, para wartawan disebut dibawa masuk ke dalam area kantor perusahaan. Di dalam lokasi itu, intimidasi disebut semakin meningkat.

Telepon seluler para wartawan diduga dirampas dan diperiksa. Dalam situasi inilah nama Chandra muncul.

Dedi menyebut pria tersebut diduga memegang telepon selulernya dan memaksa dirinya membuka kunci perangkat.

“Saya disuruh buka kunci (pasword, red) HP. Setelah itu foto dan video yang ada di dalam dihapus,” katanya.

Tidak hanya itu, para wartawan juga mengaku dipaksa membuat video permintaan maaf agar tidak lagi memberitakan aktivitas tambang di wilayah tersebut.

Video tersebut dibuat dalam kondisi tekanan karena adanya teriakan serta ancaman dari sejumlah orang di lokasi.

“Ada yang bilang kalau kami macam-macam lagi akan dibunuh dan dicari rumahnya,” ungkap Dedi.

Video tersebut kemudian beredar di media sosial dan memunculkan stigma negatif terhadap wartawan, seolah-olah mereka melakukan praktik pemerasan.

Kasus ini kini menjadi perhatian publik karena selain dugaan penganiayaan, terdapat indikasi perampasan barang, penghapusan data, intimidasi terhadap kerja pers, serta ancaman serius.

Kuasa hukum korban, Abdillah Armanegara, mengatakan laporan yang saat ini diajukan ke pihak kepolisian masih terkait dugaan penganiayaan.

Namun pihaknya masih mempelajari kemungkinan unsur pidana lain yang dapat dilaporkan dalam perkara tersebut.

Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Putra Prima Mineral Mandiri (PMM) belum memberikan tanggapan resmi atas upaya konfirmasi yang dilakukan media.

Tim media juga masih berupaya menghubungi Chandra yang disebut-sebut berada di lokasi saat insiden terjadi dan diduga terlibat dalam perampasan ponsel wartawan serta penghapusan bukti liputan.(DA85)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *