Pangkalpinang, Realistisnews.com- Pemerintah Kota Pangkalpinang mulai mendorong penerapan social contracting sebagai strategi baru dalam percepatan eliminasi AIDS, Tuberkulosis (TBC), dan Malaria. Langkah ini dibahas dalam Pertemuan Supervisi. Terpadu dan Audiensi Social Contracting yang digelar di ruang rapat Bapperida Kota Pangkalpinang, Rabu (9/4/2026).
Dalam pertemuan tersebut, keterlibatan
Organisasi Masyarakat Sipil (OMSs) dinilai
menjadi kunci untuk menjangkau kelompok rentan yang selama ini sulit disentuh layanan kesehatan formal.
Perwakilan Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia (Adinkes), Caprina Runggu, mengatakan keterbatasan tenaga dan fasilitas kesehatan membuat belum semua sasaran terlayani.
”OMS bisa menjadi jembatan untuk menjangkau populasi kunci yang belum tersentuh layanan pemerintah,” ujarnya.
Melalui skema social contracting, pemerintah daerah dapat bekerja sama secara resmi dengan komunitas, termasuk dalam penyaluranbanggaran untuk program kesehatan berbasis masyarakat. Penerapan social contracting ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang
Kesehatan yang menegaskan bahwa
penanganan kesehatan merupakan tanggung jawab bersama.
“Dengan skema ini, program promotif dan preventif diharapkan lebih efektif karena dilakukan langsung oleh komunitas yang dekat dengan masyarakat sasaran,” katanya.
Selain itu, pihaknya juga menyoroti tingginya kasus HIV pada laki-laki. Untuk itu, sektor industri mulai dilibatkan sebagai bagian dari upaya pencegahan.
Beberapa sektor yang menjadi perhatian antarą lain pertambangan, pelabuhan, dan proyek konstruksi.
Dinas Tenaga Kerja diminta aktif mendorong perusahaan untuk memberikan edukasi kesehatan kepada pekerja sebagai bagian dari tanggungjawab sosial. Dengan pendekatan ini, pemerintah berharap
jangkauan layanan kesehatan tidak lagi terbatas pada fasilitas medis, tetapi dapat menjangkau langsung masyarakat hingga ke tingkat komunitas.
Upaya kolaboratif ini diharapkan mampu
mempercepat target eliminasi AIDS, TBC, dan Malaria di Kota Pangkalpinang.
Sebelumnya, Wakil Wali Kota Pangkalpinang, Dessy Ayutrisna, mengungkapkan tren kasus
penyakit AIDS, Tuberkulosis (TBC), dan Malaria (ATM) di Kota Pangkalpinang mengalami peningkatan. “Di Pangkalpinang trennya meningkat. Karena itu diperlukan koordinasi kuat antara pemerintah kota dan seluruh OPD, baik sektor kesehatan maupun non-kesehatan,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).
Dessy juga menyoroti tingginya beban penyakit TBC di Indonesia. la menyebut, Indonesia saat ini menempati peringkat kedua dunia penyumbang kasus TBC terbesar setelah India. Dessy menegaskan, kolaborasi lintas sektor
menjadi kunci membangun sistem kesehatan yang tangguh dan berkelanjutan. Pemerintah juga akan memperkuat perencanaan, pelaksanaan program, pencegahan dini, serta pengendalian penyakit secara terpadu.
“Harapannya, derajat kesehatan masyarakat Pangkalpinang bisa meningkat secara nyata,”
pungkasnya. (rl)
